Jumat, 21 Agustus 2026

  DARI PESANTREN UNTUK KEMANDIRIAN EKONOMI

Muktamar NU ke-35 di Jombang Menghidupkan Spirit Nahdlatut Tujjar

Oleh: Nurhadi SE SH MH CPM CDM

Advokat | Certified Digital Marketing | Entrepreneur | Mediator | YouTuber | Business Consultant

Kantor Hukum Nurhadi dan Rekan

Pendahuluan

Pesantren bukan hanya tempat menuntut ilmu agama. Sejarah menunjukkan bahwa pesantren juga memiliki tradisi kemandirian, kewirausahaan, pemberdayaan masyarakat, dan perjuangan ekonomi umat.

Semangat tersebut kembali relevan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan diselenggarakan pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Muktamar merupakan forum musyawarah tertinggi NU untuk menentukan arah strategis organisasi dan program lima tahun ke depan.

Jombang memiliki makna historis yang sangat kuat. Tambakberas merupakan pesantren yang memiliki kaitan erat dengan salah satu pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, yang dikenal sebagai ulama pejuang dan salah satu tokoh penting dalam lahirnya berbagai gerakan kebangkitan umat.

Di tengah tantangan ekonomi masyarakat saat ini, momentum Muktamar NU ke-35 dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan umat tidak cukup hanya dibangun melalui pendidikan dan spiritualitas, tetapi juga melalui kemandirian ekonomi.

APA ITU NAHDLATUT TUJJAR?

Nahdlatut Tujjar secara sederhana dapat dimaknai sebagai kebangkitan para saudagar atau pedagang.

Gerakan ini memiliki sejarah penting dalam perjalanan kebangkitan umat. NU Online mencatat bahwa pada 1918, para kiai dan ulama dari kalangan pesantren berusaha membangun perkumpulan saudagar Islam sebagai respons terhadap kondisi ekonomi rakyat dan praktik monopoli ekonomi pada masa kolonial. Tokoh seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah memiliki perhatian besar terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Artinya, sejak awal, perjuangan para pendiri NU tidak hanya berbicara tentang persoalan keagamaan.

Ada kesadaran bahwa:

Umat yang kuat secara ilmu harus dibarengi dengan umat yang kuat secara ekonomi.

Kemandirian ekonomi bukan berarti mengejar kekayaan semata.

Kemandirian ekonomi adalah kemampuan masyarakat untuk berdiri di atas kekuatan sendiri, menciptakan usaha, membuka lapangan pekerjaan, mengelola sumber daya dan meningkatkan kesejahteraan tanpa kehilangan nilai moral dan keagamaan.


PESANTREN DAN TRADISI KEMANDIRIAN


Pesantren sejak dahulu memiliki karakter kemandirian yang kuat.


NU Online mencatat bahwa kemandirian ekonomi menjadi salah satu faktor yang membantu pesantren mempertahankan keberlangsungan pendidikan dan kehidupannya, termasuk dalam menghadapi tekanan pada masa kolonial.


Karena itu, pesantren sebenarnya memiliki modal besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.


Potensinya sangat luas:


Santri sebagai generasi muda produktif.

Alumni sebagai jaringan ekonomi.

Kiai sebagai sumber keteladanan.

Pesantren sebagai pusat pendidikan.

Masyarakat sekitar sebagai ekosistem ekonomi.

UMKM sebagai penggerak ekonomi lokal.

Digitalisasi sebagai sarana pemasaran.

Koperasi dan lembaga keuangan sebagai pendukung pembiayaan.


Jika seluruh potensi tersebut disatukan, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat.


MUKTAMAR NU KE-35: MOMENTUM MEMPERKUAT EKONOMI UMAT


Muktamar ke-35 NU di Tambakberas memiliki nilai simbolik yang kuat.


Tempat yang memiliki sejarah panjang perjuangan pendidikan dan kebangkitan pemikiran NU kembali menjadi tempat berkumpulnya para muktamirin untuk membicarakan arah perjalanan NU.


Muktamar tahun 2026 dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.


Momentum tersebut seharusnya tidak berhenti pada forum musyawarah.


Spirit Muktamar harus dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di tengah masyarakat.


Salah satunya adalah membangun ekosistem ekonomi Nahdliyin yang kuat.


7 LANGKAH MENGHIDUPKAN SPIRIT NAHDLATUT TUJJAR DI ERA DIGITAL

1. SANTRI HARUS MELEK USAHA


Santri tidak harus memilih antara menjadi ahli agama atau menjadi pengusaha.


Keduanya dapat berjalan bersama.


Santri dapat menjadi:


ulama + entrepreneur,

pendidik + pengusaha,

dai + profesional,

akademisi + investor,

atau pengusaha yang berintegritas.


Ilmu agama memberikan nilai.


Ilmu bisnis memberikan kemampuan.


Jika keduanya digabungkan, lahirlah pengusaha yang bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan keberkahan.


2. UMKM NAHDLIYIN HARUS NAIK KELAS


Banyak masyarakat memiliki usaha, tetapi belum seluruhnya mempunyai tata kelola bisnis yang baik.


Persoalannya bisa berupa:


Legalitas usaha.

Administrasi.

Perizinan.

Branding.

Kemasan.

Pemasaran.

Pembukuan.

Kontrak bisnis.

Perlindungan hukum.

Digital marketing.


Karena itu, pemberdayaan ekonomi tidak cukup hanya dengan memberikan modal.


Pelaku usaha juga membutuhkan pengetahuan.


Modal tanpa ilmu dapat habis.


Ilmu tanpa keberanian tidak menghasilkan.


Tetapi ketika modal, ilmu, jaringan dan integritas dipadukan, peluang usaha akan semakin besar.


3. PESANTREN MENJADI PUSAT EKOSISTEM EKONOMI


Pesantren dapat mengembangkan berbagai unit usaha sesuai potensi masing-masing.


Misalnya:


Koperasi pesantren.

Toko dan minimarket.

Produk makanan.

Pertanian.

Peternakan.

Perikanan.

Percetakan.

Konveksi.

Jasa digital.

Pendidikan dan pelatihan.

Pariwisata religi.

Produk halal.

Marketplace produk santri.


Yang terpenting adalah pengelolaan dilakukan secara profesional, transparan dan amanah.


4. SANTRI HARUS MENGUASAI DIGITAL MARKETING


Dunia usaha telah berubah.


Dulu orang mencari pelanggan melalui toko fisik.


Sekarang pelanggan dapat datang melalui:


Google, Instagram, TikTok, YouTube, marketplace dan WhatsApp.


Maka santri masa kini harus memahami teknologi.


Tidak cukup hanya bisa membuat konten.


Harus memahami:


branding → content → marketing → sales → customer service → repeat order.


Inilah salah satu bentuk aktualisasi spirit Nahdlatut Tujjar di era digital.


5. BISNIS HARUS DIBANGUN DENGAN LEGALITAS


Kemandirian ekonomi juga membutuhkan kepastian hukum.


Pelaku usaha jangan hanya berpikir:


“Yang penting laku.”


Tetapi harus berpikir:


“Bagaimana usaha ini tumbuh, legal, aman dan berkelanjutan?”


Legalitas usaha, kontrak, perlindungan merek, perizinan, hubungan kerja, perpajakan dan perlindungan konsumen merupakan bagian penting dalam membangun bisnis profesional.


Bisnis yang besar harus dibangun di atas fondasi hukum yang kuat.


6. BANGUN JARINGAN EKONOMI ANTAR-NAHDLIYIN


Spirit Nahdlatut Tujjar tidak akan maksimal jika pengusaha berjalan sendiri-sendiri.


Bayangkan jika:


petani → memasok pesantren,

pesantren → membeli produk UMKM,

UMKM → menggunakan jasa santri,

santri → memasarkan produk warga,

alumni → menjadi investor,

pengusaha → membuka lapangan pekerjaan.


Maka terbentuklah rantai ekonomi umat.


Bukan hanya transaksi.


Tetapi ekosistem.


7. KEUNTUNGAN HARUS BERUJUNG PADA KEMASLAHATAN


Tujuan akhir ekonomi bukan sekadar menjadi kaya.


Ekonomi harus mampu menghadirkan:


pekerjaan, pendidikan, kesejahteraan, kemandirian dan kemaslahatan masyarakat.


Inilah nilai yang membuat spirit Nahdlatut Tujjar tetap relevan.


Pengusaha boleh memiliki target keuntungan.


Tetapi keuntungan tersebut harus diperoleh dengan cara yang halal, jujur, profesional dan bertanggung jawab.


DARI SANTRI MENJADI ENTREPRENEUR


Hari ini kita hidup dalam era yang sangat berbeda.


Artificial intelligence berkembang cepat.


Digital marketing berubah.


Marketplace semakin kompetitif.


Persaingan usaha semakin terbuka.


Karena itu, generasi muda pesantren harus memiliki 3 kekuatan utama:


IMAN


Menjadi fondasi moral.


ILMU


Menjadi alat untuk mengambil keputusan.


USAHA


Menjadi jalan untuk mewujudkan kemandirian.


Tanpa iman, bisnis dapat kehilangan arah.


Tanpa ilmu, bisnis mudah salah langkah.


Tanpa usaha, cita-cita hanya menjadi wacana.


JANGAN HANYA MENJADI KONSUMEN


Salah satu tantangan ekonomi umat adalah ketika masyarakat lebih banyak menjadi konsumen daripada produsen.


Kita membeli produk.


Kita menggunakan aplikasi.


Kita menonton konten.


Kita mengikuti tren.


Tetapi pertanyaannya:


Berapa banyak produk yang kita ciptakan?


Berapa banyak lapangan pekerjaan yang kita buka?


Berapa banyak anak muda yang kita berdayakan?


Berapa banyak UMKM yang kita bantu naik kelas?


Inilah pertanyaan besar yang harus dijawab generasi muda.


NAHDLATUT TUJJAR DI ERA 2026


Menghidupkan Nahdlatut Tujjar hari ini tidak berarti mengulang bentuk usaha masa lalu.


Spiritnya yang harus dihidupkan.


Jika dahulu perjuangannya adalah membangun kemandirian saudagar umat, maka hari ini bentuknya dapat berupa:


UMKM digital.

Startup santri.

Koperasi modern.

Marketplace pesantren.

Ekonomi halal.

Ekosistem bisnis alumni.

Digital marketing.

Produk kreatif santri.

Profesional muda Nahdliyin.


Spiritnya tetap sama:


Jangan menjadi umat yang hanya menjadi pasar. Jadilah umat yang mampu menciptakan pasar.


JOMBANG DAN PESANTREN: SIMBOL KEBANGKITAN


Jombang bukan sekadar lokasi Muktamar.


Jombang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan NU.


Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki hubungan historis dengan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu tokoh pendiri NU. Berbagai organisasi dan gerakan yang dirintis KH Abdul Wahab, termasuk Nahdlatut Tujjar, menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan umat.


Karena itu, sangat tepat apabila momentum Muktamar ke-35 menjadi kesempatan untuk kembali bertanya:


Sudah sejauh mana umat kita mandiri secara ekonomi?


Pertanyaan itu bukan hanya untuk pengurus organisasi.


Tetapi untuk:


kiai, santri, pengusaha, profesional, akademisi, pemerintah, masyarakat dan generasi muda.


DARI PESANTREN UNTUK INDONESIA


Pesantren mempunyai kontribusi besar dalam membangun bangsa.


Jika pesantren mampu melahirkan:


santri berilmu,

santri berakhlak,

santri profesional,

santri pengusaha,

santri pencipta lapangan kerja,

dan santri yang peduli masyarakat,


maka pesantren tidak hanya mencetak manusia yang cerdas secara spiritual.


Pesantren juga dapat melahirkan generasi penggerak ekonomi bangsa.


Kemandirian ekonomi umat pada akhirnya bukan hanya kepentingan NU.


Ini adalah bagian dari cita-cita membangun Indonesia yang kuat.


PENUTUP


Muktamar NU ke-35 di Jombang hendaknya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat besar para pendiri.


Dari pesantren lahir ilmu.


Dari ilmu lahir keberanian.


Dari keberanian lahir usaha.


Dari usaha lahir kemandirian.


Dari kemandirian lahir kesejahteraan.


Dan dari kesejahteraan lahirlah masyarakat yang lebih kuat.


Spirit Nahdlatut Tujjar menunjukkan bahwa agama, pendidikan, kewirausahaan dan kemaslahatan sosial bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.


Justru semuanya dapat berjalan bersama.


Sebagaimana semangat yang terus dikembangkan dalam berbagai gerakan ekonomi Nahdliyin, penguatan ekonomi umat membutuhkan pemberdayaan yang sistematis dan berkelanjutan.


**DARI PESANTREN KITA BELAJAR.


DARI PASAR KITA BERKARYA.

DARI UMAT KITA BERDAYA.

BERSAMA KITA BANGUN KEMANDIRIAN EKONOMI.**


Nahdlatut Tujjar bukan sekadar sejarah.

Ia adalah spirit yang harus dihidupkan kembali.


KANTOR HUKUM NURHADI DAN REKAN


NURHADI SE SH MH CPM CDM


Advokat | Certified Digital Marketing | Entrepreneur | Mediator | YouTuber | Business Consultant


Layanan:

Hukum & Litigasi • Konsultasi Hukum • Bisnis & Perizinan • Pertanahan • Keluarga & Waris • Ketenagakerjaan • Digital Marketing • Website & Branding • Konsultasi Bisnis


Website:

www.expertjasa.my.id

www.nurhadijayaprima.my.id

www.jasapasporvisakitasonline.web.id


Kontak/WhatsApp: 0821-4314-9379


“Solusi Hukum, Solusi Sukses!”


#MuktamarNU35 #MuktamarNU #NU35 #Jombang #Tambakberas #NahdlatutTujjar #KemandirianEkonomi #EkonomiUmat #EkonomiPesantren #SantriEntrepreneur #SantriBerdaya #PesantrenMandiri #UMKMNahdliyin #EntrepreneurSantri #EkonomiHalal #DigitalMarketing #KemandirianUmat #NU #NahdlatulUlama #Jombang2026

0 komentar:

Posting Komentar