KEHANCURAN LAKI-LAKI & PEREMPUAN DIMULAI DARI 7 KEBIASAAN INI!
Jangan Sampai Terlambat!
Oleh: Kantor Hukum Nurhadi dan Rekan
NURHADI, SE., SH., MH., CPM., CDM.
Advokat | Santri | Entrepreneur | Mediator | YouTuber | Business Consultant
Ada kehancuran yang tidak terjadi dalam satu malam.
Kehancuran sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang: terlalu menuruti hawa nafsu, mengabaikan nasihat, salah memilih lingkungan, boros, kecanduan dunia digital, kehilangan tujuan hidup, hingga tidak peduli terhadap kesehatan dan tanggung jawab.
Baik laki-laki maupun perempuan dapat mengalaminya.
Yang perlu dipahami, judul “kehancuran” di sini bukan berarti seseorang pasti hancur hanya karena melakukan satu kebiasaan, tetapi merupakan peringatan bahwa kebiasaan buruk yang terus dipelihara dapat meningkatkan risiko rusaknya hubungan, karier, kondisi finansial, kesehatan, dan masa depan.
WHO menjelaskan bahwa kondisi kesehatan mental dapat memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman, masyarakat, pendidikan, dan pekerjaan. Karena itu, menjaga pola hidup, hubungan sosial, dan kemampuan menghadapi tekanan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sehat.
1. MENURUTKAN NAFSU DAN MENGABAIKAN NILAI AGAMA
Ketika seseorang mulai menjadikan keinginan sesaat sebagai penguasa hidup, pertimbangan mengenai benar dan salah dapat semakin melemah.
Nafsu bukan hanya berkaitan dengan hubungan seksual. Nafsu dapat berbentuk:
keinginan memiliki sesuatu secara berlebihan;
mengejar pujian;
mengejar status;
perselingkuhan;
perilaku konsumtif;
mencari kesenangan tanpa memikirkan akibat;
atau mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.
Masalahnya bukan pada keinginan manusia, tetapi ketika keinginan tersebut tidak lagi dikendalikan oleh akal, nilai moral, agama, dan tanggung jawab.
Jangan tukarkan masa depan dengan kesenangan beberapa menit.
2. TERLALU KECANDUAN DUNIA DIGITAL
Media sosial dan teknologi dapat memberikan manfaat besar. Namun, penggunaan yang tidak terkendali dapat menghabiskan waktu, perhatian, produktivitas, bahkan mengganggu hubungan dengan orang terdekat.
Bangun tidur langsung mencari ponsel.
Makan sambil bermain media sosial.
Bersama pasangan tetapi sibuk dengan layar.
Bekerja tetapi terus membuka notifikasi.
Tidur larut karena scrolling tanpa tujuan.
Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, seseorang dapat kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli kembali: waktu.
Gunakan teknologi sebagai alat untuk membangun kehidupan, bukan membiarkan teknologi mengendalikan kehidupan.
3. RAKUS DAN TIDAK PERNAH MERASA CUKUP
Ambisi untuk maju adalah sesuatu yang baik.
Tetapi ambisi berbeda dengan keserakahan.
Orang yang selalu merasa kurang dapat terjebak dalam:
“Saya harus punya lebih banyak.”
Lebih banyak uang.
Lebih banyak barang.
Lebih banyak pengakuan.
Lebih banyak perhatian.
Lebih banyak kekuasaan.
Akhirnya, seseorang bisa kehilangan rasa syukur dan mengambil keputusan finansial yang berbahaya.
Jangan sampai mengejar kemewahan justru membuat hidup penuh utang, konflik, dan tekanan.
Rezeki perlu diperjuangkan, tetapi juga harus dikelola dengan bijaksana.
4. SUKA MENGELUH DAN MERASA DIRI PALING BENAR
Orang yang tidak pernah mau dikoreksi akan sulit berkembang.
Setiap nasihat dianggap serangan.
Setiap kritik dianggap penghinaan.
Setiap kesalahan selalu menyalahkan orang lain.
Dalam hubungan rumah tangga, pola seperti ini dapat menjadi sumber konflik yang serius.
Padahal dalam sebuah hubungan, baik suami maupun istri sama-sama memiliki tanggung jawab untuk saling menghormati dan membangun kehidupan bersama. Mahkamah Konstitusi pada 2026 kembali menegaskan bahwa hubungan suami-istri dalam kerangka UU Perkawinan harus dipahami sebagai hubungan dengan tanggung jawab bersama dan kedudukan yang seimbang.
Belajar berkata: “Mungkin saya salah. Saya akan memperbaikinya.”
Kalimat sederhana itu bisa menyelamatkan banyak hubungan.
5. SALAH MEMILIH LINGKUNGAN
Pepatah mengatakan, lingkungan dapat membentuk karakter seseorang.
Pergaulan yang salah dapat membuat seseorang menganggap perilaku buruk sebagai sesuatu yang normal.
Misalnya:
perjudian dianggap hiburan;
perselingkuhan dianggap biasa;
mabuk dianggap gaya hidup;
penipuan dianggap kecerdikan;
utang konsumtif dianggap keren;
kekerasan dianggap cara menyelesaikan masalah.
Pada awalnya mungkin hanya ikut-ikutan.
Lama-kelamaan menjadi kebiasaan.
Kemudian menjadi karakter.
Dan akhirnya dapat menghancurkan masa depan.
Pilih teman yang ketika Anda jatuh, mengingatkan untuk bangkit—bukan mendorong Anda semakin jauh.
6. MENGABAIKAN KESEHATAN DAN DIRI SENDIRI
Tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa istirahat pada akhirnya dapat memberikan sinyal.
Kurang tidur, pola makan buruk, stres berkepanjangan, tidak berolahraga, dan mengabaikan kondisi diri dapat memengaruhi kualitas kehidupan.
Kesehatan bukan hanya persoalan fisik.
Kesehatan mental juga penting. WHO menyebut kesehatan mental berhubungan dengan kemampuan seseorang menghadapi tekanan hidup, bekerja, belajar, menjalankan fungsi sosial, serta membangun hubungan dengan orang lain.
Jangan menunggu tubuh dan pikiran benar-benar menyerah baru mulai berubah.
Menjaga kesehatan adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan keluarga.
7. TIDAK PUNYA TUJUAN HIDUP
Ini salah satu masalah paling berbahaya.
Seseorang bisa memiliki uang tetapi tidak memiliki arah.
Memiliki pasangan tetapi tidak tahu tujuan hubungan.
Memiliki pekerjaan tetapi tidak tahu untuk apa bekerja.
Memiliki banyak teman tetapi merasa kosong.
Hidup tanpa tujuan membuat seseorang mudah terbawa keadaan.
Hari ini mengikuti teman.
Besok mengikuti tren.
Lusa mengejar gengsi.
Akhirnya hidup hanya berjalan, tetapi tidak benar-benar diarahkan.
Mulailah menentukan:
Apa yang ingin saya bangun?
Keluarga seperti apa yang ingin saya miliki?
Karier seperti apa yang ingin saya perjuangkan?
Apa kontribusi saya untuk masyarakat?
Warisan kebaikan apa yang ingin saya tinggalkan?
JANGAN TUNGGU HANCUR BARU BERUBAH!
Kehidupan laki-laki dan perempuan bukan perlombaan siapa yang paling cepat mendapatkan semuanya.
Yang lebih penting adalah siapa yang mampu menjaga dirinya ketika mendapatkan kesempatan, kekayaan, kekuasaan, cinta, dan kebebasan.
Jangan biarkan:
NAFSU menghancurkan kehormatan.
EGO menghancurkan hubungan.
GAYA HIDUP menghancurkan keuangan.
PERGAULAN menghancurkan masa depan.
DIGITAL menghancurkan produktivitas.
KELALAIAN menghancurkan kesehatan.
KEHILANGAN ARAH menghancurkan masa depan.
DALAM RUMAH TANGGA, JANGAN MENUNGGU MASALAH MENJADI SENGKETA
Perkawinan bukan sekadar status di atas kertas.
UU Perkawinan menempatkan suami dan istri dalam hubungan yang memiliki hak dan kewajiban. Pasal 30 sampai dengan Pasal 34 mengatur antara lain kewajiban membangun rumah tangga, kedudukan yang seimbang, saling mencintai, menghormati, setia, serta memberikan bantuan lahir dan batin.
Jika kewajiban dalam rumah tangga dilalaikan, persoalan dapat berkembang menjadi konflik keluarga bahkan perkara hukum.
Karena itu, selesaikan masalah ketika masih kecil sebelum berubah menjadi sengketa besar.
Komunikasi, musyawarah dan mediasi dapat menjadi jalan awal untuk mencari solusi secara lebih baik sebelum konflik semakin melebar.
7 PERTANYAAN UNTUK DIRI SENDIRI
Sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah saya sedang dikendalikan oleh nafsu atau mengendalikan diri?
Apakah penggunaan media sosial saya membantu atau justru menghancurkan produktivitas?
Apakah saya bersyukur atau selalu merasa kurang?
Apakah saya mampu menerima kritik dan mengakui kesalahan?
Apakah lingkungan saya membawa saya menjadi lebih baik?
Apakah saya menjaga kesehatan fisik dan mental?
Apakah saya benar-benar tahu ke mana arah hidup saya?
Jika jawabannya belum baik, tidak ada kata terlambat untuk berubah.
PENUTUP
Kehancuran tidak selalu datang dalam bentuk musibah besar.
Kadang ia datang dalam bentuk kebiasaan kecil yang terus kita anggap sepele.
Satu kebohongan.
Satu perselingkuhan.
Satu utang.
Satu pergaulan buruk.
Satu keputusan emosional.
Satu kebiasaan buruk.
Jika terus diulang, semuanya dapat menjadi pola hidup.
Namun kabar baiknya:
Kebiasaan buruk bisa dihentikan.
Kesalahan bisa diperbaiki.
Hubungan bisa dibangun kembali.
Masa depan masih bisa diperjuangkan.
Dan ketika persoalan sudah menyentuh hubungan keluarga, harta, pekerjaan, bisnis, atau persoalan hukum, jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi.
Cari informasi yang benar. Pahami hak dan kewajiban. Dan ambil langkah hukum secara bijaksana.
KANTOR HUKUM NURHADI DAN REKAN
NURHADI, SE., SH., MH., CPM., CDM.
Advokat | Santri | Entrepreneur | Mediator | YouTuber | Business Consultant
“HUKUM ADALAH PERLINDUNGAN, INTEGRITAS ADALAH KEKUATAN.”
🌐 www.expertjasa.my.id
🌐 www.nurhadijayaprima.my.id
🌐 www.jasapasporvisakitasonline.web.id
📱 0821-4314-9379
Konsultasi Hukum • Pendampingan Perkara • Mediasi & Penyelesaian Sengketa • Legalitas Usaha & Perizinan • Konsultasi Bisnis & Hukum
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi dan refleksi umum, bukan diagnosis psikologis maupun nasihat hukum untuk perkara tertentu. Setiap persoalan hukum perlu dianalisis berdasarkan fakta dan dokumen masing-masing.



